Pinrang— Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Kabupaten Pinrang menggelar rapat penetapan Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD-KSB). Langkah ini sebagai upaya
menerapkan tata kelola perkebunan kelapa sawit berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan petani.
Rapat RAD-KSB tersebut dilaksanakan di kantor Badan Perencanaan, pembangunan, penelitian dan pengembangan daerah (Bappelitbangda) pada Senin (16/12/2024).
Rapat tersebut dihadiri Bapak Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pinrang, beberapa pejabat terkait dan tim penyusun RAD-KSB.
Acara tersebut sejalan yang dikatakan Kadis Nakbun, drh. Hj. Elvi Martina, bahwa salah satu indikator keberhasilan kita meningkatnya produksi dan nilai tambah hasil perkebunan.
Sementara Kepala Bappelitbangda, Andi Faharuddin mengungkap, penetapan RAD-KSB akan disinkronkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Ditetapkannya RAD-KSB Tahun 2024 ini menuju penerbitan Perbup yang nantinya disinkronkan dengan (RPJMD) Bupati Terpilih Tahun 2025″, Ungkap Anfar sapaannya.
Kepala Bidang Agribisnis dan Penyuluhan Perkebunan (Agriluh) Disnakbun Pinrang, Haeriyah mengatakan untuk mendukung Tata kelola perkebunan sawit berkelanjutan perlu diterbitkan perbup RAD-KSB yang nantinya disesuaikan dengan program selanjutnya.
“Seiring hasil pertemuan dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Via zoom, bahwa untuk mendukung tata kelolah perkebunan Sawit Berkelanjutan perlu diterbitkan perbup tentang RAD-KSB Tahun 2024 yang selanjutnya disesuaikan dengan program Strategi Aksi Nasional (Sanas) kelapa sawit berkelanjutan tahun 2025, jadi ada masa peralihan program,” terang Haeriyah.
Untuk diketahui sebelum ditetapkannya RAD-KSB ini telah dilaksanakan uji publik di tempat yang sama. Di kesempatan tersebut salah seorang yg mewakili petani sawit, H. Herman, mengungkapkan tanaman sawit bukanlah tanaman yang manja mudah memeliharanya harga makin meningkat dan mendukung adanya regulasi dari pemerintah untuk kepentingan petani sawit.
“Berdasarkan pengalaman saya Tanaman kelapa sawit bukanlah tanaman yang manja tidak susah memeliharanya tidak terlalu membutuhkan pemangkasan seperti kakao, apalagi harganya mengalami peningkatan tiap saat, baru baru ini panen dan hasil yang saya perolah sekitar 40 Juta, oleh karena itu sebagai petani saya sangat mendukung regulasi yang ditetapkan karena tentunya semata untuk kepentingan kesejahteraan petani”, tutup Herman.
