PINRANG — SMAN 7 Pinrang kembali mencatatkan langkah progresif di kancah nasional. Sekolah yang dikenal aktif dalam pengembangan budaya inovatif ini resmi mengirimkan tiga karya unggulan ke Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) 2025 yang digelar oleh Kementerian PANRB.
Bukan sekadar proyek sekolah, tiga inovasi yang diusung mencerminkan kepedulian nyata terhadap lingkungan, transportasi, dan penataan fasilitas—tiga isu publik yang tak jarang luput dari perhatian.
1. LAPAS (Lapor Sampah Sekolah)
Gerakan sadar lingkungan ini menempatkan siswa sebagai agen perubahan. Dengan sistem pelaporan dan pemilahan sampah di kelas, LAPAS menanamkan tanggung jawab kolektif dan kesadaran hijau sejak dini. Sekolah bersih bukan lagi tugas petugas kebersihan semata, tapi buah dari budaya peduli bersama.
2. AMAN BAH (Ajak Teman Bonceng Dua ke Sekolah)
Lewat pendekatan sederhana namun berdampak, AMAN BAH mengajak siswa untuk saling berbagi kendaraan saat berangkat ke sekolah. Selain mengurangi kemacetan dan jejak karbon, program ini membangun kebersamaan di antara pelajar. Satu motor, dua orang, lebih hemat, lebih ramah lingkungan.
3. SPY (School Parking Yours)
Inovasi ini menjawab masalah klasik sekolah-sekolah urban: parkiran yang semrawut. SPY menghadirkan sistem parkir yang tertib dan aman, memberi pengalaman baru bagi siswa dan guru dalam memanfaatkan ruang secara disiplin dan efisien.
Sekolah sebagai Laboratorium Inovasi
Kepala UPT SMAN 7 Pinrang, Drs. Ikhwan Matu, M.Pd., menyatakan bahwa ketiga inovasi tersebut bukan hasil kerja individu, melainkan buah kolaborasi antara guru, siswa, dan seluruh warga sekolah.
“Kami ingin membuktikan bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar, tapi juga tempat melahirkan solusi. LAPAS, AMAN BAH, dan SPY adalah wujud nyata peran pendidikan dalam memperbaiki pelayanan publik,” ujarnya.
Langkah SMAN 7 Pinrang ini memberi harapan baru: bahwa inovasi bisa tumbuh dari akar rumput, dari ruang kelas, dan dari semangat gotong royong. Tak sekadar mengikuti lomba, mereka sedang menyampaikan pesan: sekolah bisa, dan sekolah harus, menjadi motor perubahan.
