Oleh: Kahar Agung Kh.SH
Nama PT Masmindo Dwi Area kembali menjadi sorotan. Perusahaan tambang emas ini sedang melakukan pengeboman di kawasan pegunungan Latimojong, salah satu benteng terakhir ekosistem Sulawesi Selatan. Dibalik gemerlapnya emas, tersembunyi dampak besar yang dirasakan warga, mulai dari getaran ledakan hingga potensi air keruh sungai suso yang bisa menyebabkan gatal-gatal.
Kegiatan penambangan dengan metode peledakan (blasting), yang dilakukan oleh Masmindo, bisa membawa konsekuensi yang jauh lebih besar daripada sekadar retakan tanah. Berikut ini adalah enam dampak lingkungan utama yang berpotensi terjadi akibat aktivitas tersebut.
1.Getaran dan Kebisingan: Rumah Bergetar, Hutan Terganggu
Peledakan di area tambang bukan hanya menghancurkan batuan, tapi juga menimbulkan getaran dan kebisingan ekstrem. Di Latimojong, warga bisa mengeluhkan suara ledakan yang menggema hingga desa, dan ada kekhawatiran bangunan rumah bisa mengalami kerusakan struktural dalam jangka panjang.
Satwa liar pun terusik. Burung-burung yang dulu bersarang di pepohonan kini perlahan menghilang, mungkin karena stres atau terganggu oleh bunyi ledakan harian yang memekakkan telinga.
2. Debu dan Gas Beracun: Nafas Jadi Taruhan
Jika setiap kali ledakan terjadi, debu halus dan gas beracun seperti nitrogen oksida (NOx) terlepas ke udara. Debu silika yang terhirup dalam waktu lama bisa menyebabkan penyakit paru-paru seperti silikosis. Di Latimojong, polusi udara ini bisa semakin parah karena kendaraan tambang juga menambah emisi.
Dampak ke depan warga bisa saja banyak yang terserang batuk dan gangguan pernapasan, terutama anak-anak dan lansia.
3. Pencemaran Air: Sungai Suso Tak Lagi Jernih
Air adalah sumber kehidupan, tapi ledakan tambang berpotensi mencemarinya. Sisa bahan peledak, campuran nitrat dan minyak (ANFO), bisa meresap ke dalam tanah dan mencemari air tanah. Belum lagi limbah dari proses pengolahan emas bisa saja merembes ke Sungai Suso, salah satu sumber air utama di daerah ini.
Warga masyarakat berpotensi besar terserang penyakit kulit, gatal setelah menggunakan air sungai. Mereka suatu saat akan bertanya ini penyakit apa dan apa penyebabnya ? Namun tidak ada yang akan tahu bahwa sebenarnya limbah tambang sebagai dalangnya.
4. Potensi Longsor, Tanah Mulai Bergerak
Getaran akibat ledakan bisa melemahkan struktur tanah, apalagi di daerah pegunungan seperti Latimojong. Pada Februari 2022, beberapa titik longsor terjadi di Ranteballa dan Ulusalu. Sudah Blbanyak aktivis lingkungan memperingatkan bahwa jika aktivitas blasting (pengeboman) jika terus dilakukan berpotensi bencana alam akan semakin besar.
5. Hancurnya Keanekaragaman Hayati: Atap Sulsel Terancam
Kawasan Latimojong dikenal sebagai “atap Sulsel”, rumah bagi berbagai flora dan fauna endemik. Tapi kini, pembukaan lahan, pembangunan jalan tambang, dan ledakan dengan bom akan mengoyak ekosistem yang rapuh.
Hewan kehilangan habitat, tumbuhan langka terancam punah, dan sistem air alami terganggu. Jika tidak segera dievaluasi metode yang dilakukan oleh Masmindo Dwi Area, kerusakan ini bisa menjadi irreversibel (tidak bisa dikembalikan lagi).
6. Potensi Konflik Sosial dan Ketidakadilan: Warga Tergusur, Tak Terlibat
Bukan hanya alam yang jadi korban. Warga lokal akan mengalami penggusuran lahan, hilangnya pohon tanaman warga, dan minimnya keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan.
Mereka melihat gunung digerus, air jadi keruh, dan tanah warisan leluhur tergadai, namun nyaris tidak ada timbal balik. Padahal, tambang ini bernilai triliunan rupiah. Siapa yang sebenarnya untung?
Saatnya Menuntut Keadilan
Masyarakat sipil, aktivis lingkungan, dan akademisi harus menuntut PT Masmindo untuk:
- Membuka dokumen AMDAL ke publik secara menyeluruh.
- Mengevaluasi sistem tambang open pit dengan cara blasting oleh Masmindo Dwi Area, semua harus terkendali dan transparan, negara harus turun tangan.
- Transparansi pengelolaan limbah dan debu.
- Masmindo Dwi Area Harus melibatkan masyarakat dalam proses pemantauan lingkungan.
Emas Bisa Ditambang, Tapi Hidup Tak Bisa Diulang
Pembangunan dan kemajuan memang penting. Tapi jika harus mengorbankan alam dan nyawa manusia, apakah itu pantas disebut kemajuan?
Ledakan di Latimojong bukan hanya memecah batu, tapi juga memecah kepercayaan rakyat. Saatnya tambang emas tidak hanya bicara tentang keuntungan, tapi juga tanggung jawab.
