Sidrap— Komunitas Literasi Anak Bangsa (KLAB) menggelar diskusi publik dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia dengan tema reflektif “Masih Pantaskah Indonesia Dicintai?”. Acara digelar di Perpustakaan Daerah Sidrap pada Sabtu (23/8).
Acara yang dipandu oleh Yoga Sastiko dari Divisi Program KLAB ini menghadirkan dua narasumber, yakni M. Rasyid Ridha Bakri, selaku Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang, serta Muhammad Husni Dewan Penasehat KLAB sekaligus Founder Sobat Bookshop.
Dalam pemaparannya, Rasyid Ridha Bakri menilai tema diskusi ini sangat relevan di tengah kondisi bangsa saat ini. Ia menyinggung fenomena pengibaran bendera One Piece yang sempat viral, yang menurutnya tidak menjadi persoalan sepanjang tidak dimaksudkan untuk mengganti bendera Merah Putih.
Ridha juga menyoroti kebijakan abolisi dan amnesti bagi pejabat yang terjerat kasus korupsi. Menurutnya, korupsi adalah tindak kejahatan yang tidak boleh diberi keringanan karena merusak kepercayaan rakyat terhadap negara. Ia juga menegaskan bahwa isu Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Kabupaten Sidrap saat ini belum mengalami kenaikan. Menjawab pertanyaan peserta tentang polemik Tempat Hiburan Malam (THM), Rasyid menekankan bahwa regulasi sebenarnya telah ada melalui Peraturan Daerah, hanya saja tinggal menunggu pelaksanaan dari pihak eksekutif.
Sementara itu, Muhammad Husni mengungkapkan bahwa penentuan tema diskusi kemerdekaan kali ini cukup sulit, karena begitu banyak persoalan bangsa yang terjadi. Ia menyoroti kasus Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Emil Leiser (Noel), yang pernah dikenal sebagai aktivis 98 namun baru-baru ini tertangkap tangan oleh KPK. Menurutnya, sangat ironis ketika seseorang yang pernah berjuang atas nama rakyat justru terjerat kasus korupsi, bahkan masih sempat meminta amnesti. Husni juga mengkritisi kebijakan PBB-P2 yang dinilainya sebagai cara instan pemerintah daerah dalam meningkatkan pendapatan tanpa harus berpikir keras.
Diskusi yang dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai kampus di Sidrap ini berlangsung hangat dan penuh semangat. Para peserta aktif menyampaikan pertanyaan dan pandangan kritis, baik terkait isu nasional maupun persoalan lokal. Kehadiran Wakil Ketua DPRD memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk berdialog langsung dengan wakil rakyat, yang jarang terjadi dalam forum terbuka.
Melalui diskusi ini, KLAB berhasil menghadirkan ruang reflektif sekaligus ruang aspirasi, yang tidak hanya membicarakan tentang kenapa Indonesia layak dicintai, tetapi juga tentang tantangan besar yang membuat cinta itu seringkali diuji.
