Pohon Lombok di Sumur Manurung Lapakkita Pinrang, Jimat untuk Merantau

Pinrang– Sumur Manurung Lapakkita di Kabupaten Pinrang, menyimpan banyak kisah. Tidak hanya sumur, tetapi ada sebuah pohon di dekat sumur yang dipercaya berkhasiat.

Pohon tersebut  berukuran sebesar lengan dan diyakini berusia sekitar 400 tahun, tertancap di dekat Sumur Manurung Lapakkita, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Pohon ini, yang dulunya membentuk pagar alami di sekitar sumur tersebut, kini menjadi satu-satunya saksi sejarah yang sering dijadikan jimat oleh orang-orang yang merantau.

Pohon tersebut, menurut diceritakan secara turun temurun sebagai “to’ ladang” atau pohon lombok, memiliki ukuran yang berbeda dengan pohon lombok pada umumnya, yang batangnya lebih kecil. Meskipun dulunya ada sekitar 6-7 pohon, hanya satu pohon lombok yang tersisa hingga kini.

La Sinrang, penjaga Situs Sumur Manurung Lapakkita, menyampaikan bahwa pohon tersebut diperkirakan ditanam dengan sengaja untuk menjadi penanda dan tanaman pelindung bagi situs bersejarah tersebut.

Meski tidak ada informasi lengkap tentang apakah pohon tersebut ditanam atau tumbuh secara alami di sekitar sumur, namun secara turun temurun diwariskan sebagai pohon lombok.

Sebagai bagian dari pelestarian, pohon tersebut pernah dicabut oleh Sinrang sekitar 13 tahun lalu karena adanya kerusakan di sekitar sumur. Namun, panjang batang pohon yang sekitar setengah meter kini dipertahankan dan dikelilingi oleh kaca transparan sebagai upaya perlindungan dari potongan yang sering diambil oleh pengunjung untuk dijadikan jimat.

Meskipun belum ada penelitian resmi yang membuktikan jenis pohon tersebut, beberapa warga meyakini bahwa pohon lombok tersebut memiliki kekuatan atau khasiat yang sebanding dengan Sumur Manurung Lapakkita.

Sinrang mengakui bahwa belum ada penelitian yang secara khusus meneliti jenis pohon tersebut. Meskipun begitu, masyarakat setempat percaya bahwa pohon tersebut memiliki nilai spiritual dan melambangkan keberanian serta daya tahan, khususnya bagi mereka yang merantau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *