Diskusi Publik KLAB Soroti Krisis Sampah: Tanggung Jawab Siapa?

SIDRAP – Komunitas Literasi Anak Bangsa (KLAB) menggelar diskusi publik bertema “Sampah, Tanggung Jawab Siapa?” pada Sabtu, 26 Juli 2025, di Perpustakaan Daerah Sidrap. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber lintas bidang, Dr. Ir. H. Muhammad Yusuf, ST, M. Eng (Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sidrap), Amannang Saily Endeng, ST.,S.Pd., M.Si (Pengelola TPS3R Majjelling), dan Aryuni Juminarni S.M (Relawan Literasi Masyarakat 2025 dan Anggota KLAB).

Aryuni Juminarni menekankan pentingnya literasi lingkungan sebagai bagian dari pengembangan literasi masyarakat. “Selama ini kita hanya mengenal enam literasi dasar yaitu baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, dan budaya. Namun, literasi lingkungan justru menjadi yang paling krusial hari ini karena menyangkut keberlangsungan hidup manusia dan bumi,” ujarnya.

Mengutip data KLHK, Relima Sidrap tersebut menjelaskan bahwa sebagian besar sampah yang dihasilkan adalah sisa makanan yang turut menyumbang emisi gas rumah kaca global. Ia juga menyoroti penemuan Greenpeace bahwa mikroplastik sudah ditemukan dalam darah dan paru-paru manusia.

Ia menutup dengan mengajak peserta untuk memulai dari diri sendiri dengan menerapkan prinsip 7R: Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Repair, Recycle, dan Rot. “Apa yang kita buang, akan kembali ke kita,” pungkasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Dr. Ir. H. Muhammad Yusuf, mengungkapkan tantangan utama pengelolaan sampah di daerah yaitu minimnya anggaran. Ia menyoroti rendahnya PAD sektor lingkungan yang menyebabkan lemahnya fasilitas dan SDM.

“Kalau PAD kecil, siapa yang mau urus sampah? Bahkan Makassar dengan PAD besar saja belum dapat Adipura, dan Sidrap kemarin mendapat Adipura” ucapnya.

Menurutnya, 73% timbulan sampah di Sidrap berasal dari sisa makanan. Sementara itu, sampah plastik tetap menjadi ancaman jangka panjang karena sulit terurai dan terus meningkat seiring budaya konsumtif masyarakat.

“Indonesia menghasilkan lebih dari 7 juta ton sampah plastik per tahun, dan hanya sekitar 10% yang didaur ulang. Ujarnya

Ia menambahkan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah.

“Kalau kita terus begini, TPA bisa ‘meledak’. Sampah bukan hanya untuk dibuang, tapi harus dikelola. Dari rumah, sekolah, kantor, semua harus ambil peran. Sampah seharusnya dapat menghasilkan nilai guna dan nilai ekonomis, seperti makanan bisa menjadi kompos dan sampah plastik bisa menjadi Paving blok”

Pengalaman lapangan dibagikan oleh Amannang Saily Endeng, Direktur TPS 3R KSM Majjelling. Di TPS pemilahan jenis sampah dilakukan.
“beratnya proses pemilahan sampah dari memisah tutup, botol, hingga label yang nilainya sangat kecil saat dijual kembali. Kadang cuma dapat dua ribu rupiah. Tapi masyarakat masih enggan bayar iuran sampah, bahkan saat petugas sudah angkut dari rumah,” keluhnya.

Amannang berharap masyarakat berhenti mengandalkan pemerintah saja, dan mulai terlibat aktif. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan warga dinilai jadi kunci keberhasilan pengelolaan lingkungan.

Diskusi ini ditutup dengan sosialisasi aplikasi Penjemputan Sampah dari Dinas Lingkungan Hidup serta ajakan kolektif untuk bijak dalam mengolah sampah karena sampah adalah tanggung jawab bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *