YOGYAKARTA – Di tengah kebanggaan membawa nama Sulawesi Selatan pada Seri Nasional Festival Grassroots Piala Presiden 2026 di Yogyakarta, perjuangan Perspin Pinrang Kelompok Umur (KU) 10 justru menyisakan ironi. Keberangkatan tim menuju putaran nasional nyaris batal akibat minimnya dukungan pembiayaan dari pemerintah dan federasi sepak bola di tingkat provinsi.
Padahal, Perspin Pinrang berhak tampil di tingkat nasional setelah meraih prestasi pada babak regional. Namun, ketika kesempatan emas itu datang, dukungan yang diharapkan justru tak kunjung hadir.
Salah seorang orang tua pemain, Ernayanti Adham, mengungkapkan bahwa waktu persiapan menuju Yogyakarta sangat singkat.
“Pengumumannya baru hari Selasa saat di Maros, dan hari Minggunya tim harus langsung berangkat dari Makassar menuju Jogja,” ujarnya.
Meski keberangkatan rombongan dari Pinrang menuju Makassar sempat difasilitasi oleh KONI Kabupaten Pinrang, bantuan tersebut berhenti sampai di ibu kota provinsi. Untuk perjalanan dari Makassar menuju Yogyakarta, rombongan harus mencari jalan keluar sendiri.
Di tengah ketidakpastian tersebut, mimpi puluhan anak untuk tampil di panggung nasional akhirnya diselamatkan oleh pengorbanan orang tua. Seluruh biaya perjalanan dari Makassar hingga tiba di Yogyakarta ditanggung secara mandiri menggunakan dana pribadi salah satu orang tua pemain.
Pengorbanan itu menjadi bukti bahwa keluarga para pemain rela mengorbankan kemampuan finansial demi menjaga asa anak-anak mereka untuk berkompetisi dan mengharumkan nama Sulawesi Selatan.
Sesampainya di Yogyakarta, rombongan mendapat sambutan hangat dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Pinrang Sulawesi Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (IPMAPI Sulsel DIY). Kehadiran para mahasiswa rantau tersebut menjadi suntikan semangat bagi para pemain yang berjuang jauh dari kampung halaman.
Ketua Umum IPMAPI Sulsel DIY, A. Zulfikri Kholil (Anzoel), menilai para atlet usia dini ini layak mendapatkan perhatian yang lebih serius dari pemerintah dan pemangku kebijakan.
“Para pemain ini sangat pantas mendapatkan perhatian lebih. Peran dari pemangku kebijakan sangat dibutuhkan. Mereka telah berjuang dan membanggakan nama Sulawesi Selatan di tanah Mataram ini,” katanya.
Kisah Perspin Pinrang U-10 menjadi potret nyata masih minimnya perhatian terhadap pembinaan sepak bola usia dini. Di saat anak-anak berjuang membawa nama daerah di tingkat nasional, justru orang tua yang harus menjadi penyelamat utama agar mimpi mereka tidak kandas di tengah jalan.
Perjuangan ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, maupun Asprov PSSI Sulsel agar prestasi atlet muda tidak hanya diapresiasi lewat ucapan, tetapi juga melalui dukungan nyata. Sebab, semangat dan dedikasi anak-anak Perspin Pinrang telah membuktikan bahwa mereka pantas memperoleh perhatian yang sepadan dengan perjuangan yang telah mereka lakukan.
