PINRANG — Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Salo, Kabupaten Pinrang, tercatat mencapai 15 kasus sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Kepala Puskesmas Salo, dr. Lenny Wirawan, mengatakan kasus DBD terbanyak ditemukan pada Mei 2026 dengan jumlah lima kasus.
“Untuk saat ini kasus terbanyak itu di bulan Mei, ada lima kasus. Tapi total kasus yang ada sampai sekarang itu sebanyak 15, dari Januari sampai dengan Juni,” kata Lenny.
Menurutnya, kondisi tersebut masih perlu mendapat perhatian agar kasus DBD tidak terus bertambah. Salah satu langkah yang didorong Puskesmas Salo yakni memperkuat kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di wilayah yang ditemukan kasus.
Lenny mengatakan pihaknya telah menyampaikan kepada masing-masing kelurahan untuk meningkatkan kegiatan PSN. Langkah tersebut dinilai penting untuk memutus perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD di lingkungan permukiman.
“Masih perlu lagi untuk lakukan kegiatan PSN supaya kasusnya tidak bertambah lagi ke depannya,” ujarnya.
Hal tersebut disampaikan Lenny dalam kegiatan lintas sektor yang dirangkaikan dengan forum konsultasi publik. Kegiatan itu melibatkan sejumlah pihak untuk memberikan masukan terkait pelayanan dan program yang dijalankan Puskesmas Salo.
Lenny berharap sinergi lintas sektor dapat terus diperkuat, khususnya dalam mendukung program kesehatan yang dijalankan Puskesmas Salo.
“Kami harapkan dengan kegiatan ini, kerja sama kami dengan lintas sektor dapat berjalan dengan baik sehingga kegiatan-kegiatan program yang diberikan oleh Dinas Kesehatan kami dapat memberikan yang terbaik dan mencapai target yang diberikan,” jelasnya.
Selain membahas DBD, dalam kegiatan tersebut juga dipaparkan sejumlah capaian program kesehatan, termasuk program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Untuk CKG, Puskesmas Salo mencatat capaian sekitar 32 persen dari target 46 persen yang ditetapkan pemerintah pusat. Adapun sasaran yang telah terinput dalam sistem ASIK mencapai 20.157 orang, mencakup target CKG umum dan CKG sekolah.
Puskesmas Salo juga dalam waktu dekat akan melakukan tracing Tuberkulosis (TB) yang diintegrasikan dengan program CKG.
Untuk wilayah Watang Sawitto, terdapat delapan lokus yang akan menjadi lokasi pemeriksaan. Kegiatan tersebut nantinya mencakup pemeriksaan sputum serta foto rontgen.
“Kami tinggal menunggu kesiapan dari pihak pusat untuk membantu kami untuk proses kegiatan tersebut,” kata Lenny.
Melalui forum konsultasi publik tersebut, Puskesmas Salo juga mengharapkan masukan dari lintas sektor mengenai berbagai kendala yang ditemukan di lapangan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
